Senin, 23 Januari 2017

Mudik, Aku dan Bokong Aduhai

Mudik, dengan sisa keuangan di dompet yang semakin menipis mendukung tekadku untuk segera mudik dan tentu saja disaat tidak ada lagi kegiatan perkuliahan, karena saya berhenti kuliah dan memilih untuk kawin muda hehe.. gak kok becanda, maksudnya libur. Mudik, pulang ke kampung halaman, tidur yang enak dan nyaman, mandiri libur dan saatnya manja-manjaan. Biasa dimasakin mas warung makan Ar Rohman, sekarang dimasakin mamah istrinya pak Fernan.

Kebetulan bangunku pagi, karena terlalu pagi yaudah tidur lagi, bangun lagi eh udah siang hari. Aku langsung bergegas mandi dan tidak lupa menggosok gigi, sehabis mandi ya tidur lagi. Selesai mandi aku make pakaian yang nyaman untuk mudik. Sneaker ✔
Kaos kaki brand lokal✔
Jeans yang ga dicuci 5 hari masih nyaman dipake✔
Kaos oblong✔
Hoodie ✔
Buff multifungsi yang dijadiin masker✔
Ya, Jadi totalnya Rp. 1.430.000 ya pak, besok dikirim.

Jam 12 lewat aku berangkat dan menuju pom bensin terdekat (kirakira 10km dari rumah, ya dekat) eh lupa kalo ini hari Jumat, jadi isinya di pinggir jalan aja. Ketika dekat jembatan Kahayan, pas dipinggir jalan ada bapak-bapak dikeroyok oleh 3 bapak-bapak, kasihan. Daripada memikir apa motif pengeroyokan tersebut, aku lebih memilih untuk memikirkan untuk mendapatkan hatimu. Pembukaan mudik yang luar biasa aja gitu, ngeliat bapak-bapak dikeroyok. Rame sih.

Baru 30 menit perjalanan eh hujan, terpaksa menepi di sebuah warung di pinggir jalan. Kalau cuma numpang duduk jadi aneh rasanya, jadi aku memutuskan untuk membeli Teh Pucuk buat mencuci tangan, gak ah, buat diminum. Yang jaga warung gadis belia yang lumayan wajahnya, dia tampak senyum kepadaku sambil menyodorkan kembalian yang kurang 10rb, "eh tadi uangku 20rb" jawabku, jadi salah tingkah dianya, mungkin karena resleting celanaku yang kebetulan terbuka lebar pada saat itu. 30 menit aku duduk di warung itu, kebetulan hujan juga mulai agak reda, kulanjutkan perjalanan sambil dengar lagu pakai headset. Playlistku dari mancanegara hingga lokal, ketika lagunya selow gasnya juga selow tapi kalo lagunya ngebeat gasnya naik turun. Tidak ada lagu dangdut dalam playlist guna menghindari kecelakaan tunggal.

Baru 10 menit di jalan eh hujan lagi, yaudah stop lagi. 30 menit lagi, lanjut lagi. Dan kali ini benar-benar reda, jadi lanjutin perjalanan dengan santai, rasanya sejuk karena habis hujan. Ketika ada cewek mudik pake motor juga, kupersilahkan mereka menyalip (ladies first) untuk sementara supaya menatap indahnya tubuhnya, bokongnya aduhai, kalau sudah bosan yaudah salip lagi. Sampai tujuan jam 5, lumayan lama, sampe kumis tipisku jadi kaya kumis om Indro. Sekian.

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Bazeng :')
    cerita ini sangat menyentuh hatiku :')
    disitu dikatakan, aku akan menendang bokongmu 2 kali !!

    BalasHapus